Beberapa hari yang lalu aku belajar bersama beberapa teman untuk meningkatkan iman. Iman adalah perkara yang paling penting. Lebih penting dari makan, lebih penting dari minum. Bahkan lebih penting dari nafas dan nyawa.
Bila orang tidak dapat makan, minum, nafas, lama-lama munkin mati. Setelah mati sudah tidak membutuhkan itu semua.
Namun bila orang tidak punya iman, lama-lama dia pun mati juga (sesuai ajalnya meskipun tiap hari cukup makan minum nafas). Setelah mati, justru mulailah dia yakin betul pentingnya iman dan amal untuk hidupnya di dunia dan alam setelahnya.
Riwayatnya dulu para sahabat belajar iman sampe 13 tahun masih dipanggil yaa ayyuhan naas, wahai manusia. Setelah hijrah baru dipanggil yaa ayyuhalladziinaa aamanuu, wahai orang-orang yang beriman.
Jadi metodenya dengan nafi isbat, kurang lebih sbb :
1. Hijrah
Sementara waktu tinggalkan kesibukan duniawi, khususkan dan khusu’kan untuk belajar agama.
Baik secara fisik maupun batin.
2. Membentuk majlis pembicaraan iman.
a. Saling membicarakan dan mendengarkan kalimat iman,
menafikan mahluk dan mengisbatkan hanya kepada Allah.
b. Membaca firman dan hadits ttg iman dan janji-janji Allah.
3. Mengajak saudara muslim untuk belajar iman.
4. Berdoa agar dikaruniai iman.
Filed under: Diary, Motivasi Ditandai: | ahirat, dunia, iman, sukses, yakin

Ya, Pak Solichan. Orang yang beriman menurut saya lebih utama. Karena kebahagiaan yang paling hakiki adalah di akherat kelak. Dunia ini semu, fana, sementara, dan tipuan belaka. Tapi di dunia paling tidak kita sudah berusaha berbuat baik. Bukankah kebaikan seberat zarrah pun akan mendapat balasan ? Dan juga sebaliknya kejahatan seberat zarrah pun juga akan mendapat balasan.
Betul Pak bahkan di dunia pun setiap kebaikan pun adai balasannya.